BAB I
MASUKNYA ISLAM DAN BERKEMBANGNYA KEI INDONESIA
A. SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI INDONESIA
Ada tiga teori yang menyatakan masuknya Islam di Indonesia,
yaitu :
Teori Gujarat: Menutut teori ini Islammasuk ke Indonesia
pertama kali dari Gujarat (India) pada abad ke 12-13 M. Hal ini dibuktikan
dengan :
Adanya persamaan Batu Nisan di Cambay, Gujarat dangan Batu
Nisan yang ada di Pasai (Aceh) bertanggal 17 Dzulhijjah 831 H / 27 September
1428 M dan Batu Nisan di Gresik (makam Maulana Malik Ibrahim) bertanggal 822 H
/ 1419 M.
Pada waktu itu para pedagang Arab yang singgah di Gujarat
dalam rangka perdagangan timur tengah dengan Indonesia.
Teori Arabia :Islam masuk pertama kali masuk ke Indonesia
langsung dari Arab pada abad 1 H atau abad 7-8 M, hal ini dibuktikan dengan :
Adanya perkampungan arab (Pekojan) di pesisir utara pantai
Sumatra (Aceh) pada tahun 684 M.
Pada tahun 632 M para saudagara arab melakukan ekspedisi
perdagangan ke Cina, namun sebelumnya singgah dulu di Aceh, sejak saat itulah
awal Islam masuk ke Indonesia.
3. Teori Persia : Islam di Indonesia berasal dari Persia,
hal didasarkan atas persamaan budaya, yaitu :
Peringatan 10 Muharram (Syuro) sebagai peringatan Syi’ah
terhadap Syahidnya Husain.
Ada persamaan ajaran Wahdatul Wujudi Hamzah Fansuri dan
Syeikh siti Jenar dengan ajaran Sufi Pesia, Al Hallaj (wafat 922 M)
Penggunaan istilah Persia dalam tanda bunyi harokat
dalampengajian Al Qur’an
Mayoritas bermadzhab Syafi’i.
Daerah lain yang pertama menerima islam adalah Jawa, hal ini
didasarkan bukti-bukti sebagai berikut :
– Pada tahun
674 M raja Ta-cheh (Muawiyah) mengirim utusan ke kerajaan Kalingga untuk
mengetahui keadaan kerajaan tersebut. Berdasarkan utusan tersebut diketahui
bahwa pada waktu itu sudah ada penduduk yang beragama Islam.
– Di desa
Leran, Manyar, Gresik ditemukan makam Fatimah binti Maimun yang berangka tahun
475-495 H (1082-1101 M)
Berdasarkan pemaparan teori di atas dapat disimpulkan bahwa,
Islam pertama kali masuk ke Indonsia pada abad 1 H /7-8 M langsung dari Arab,
namun dapat berkembang dengan pesat pada abad ke 12-13 M, hal ini ditandai
dengan berdirinya kerajaan Samudra Pasai, dimana budaya Islam yang berkembang
adalah budaya Islam Persia.
B. TOKOH – TOKOH PENYEBAR ISLAM DI INDONESIA
Pada awalnya, tokoh-tokoh penyebar Islam di Indonesia adalah
para pedagang. Selain membawa dan menawarkan dagangan, mereka juga
memperkenalkan dan menyiarkan Islam kepada para penduduk.
1. Sumatra
Syeikh Ismail, Seorang ulama Makkah yang tinggal di Pasai.
Beliau berhasil mengislamkan Meurah Silu yang berganti nama Malikus Shalih
(raja Samudra Pasai pertama).
Syeikh Abdullah Al Yamani, ulama Makkah, berhasil
mengislamkan penguasa Kedah yang berganti nama Sultan Muzahffar Syah.
Said Mahmud Al Hadramut, berhasil mengislamkan Raja Guru
Marsakot dan rakyatnya yang berada di wilayah Barus (Sumatra Utara)
Syeikh Burhanudin Ulakan, Ulama Minangkabau penganut tarekat
Syatariyah
Sayyid Usman Syahabudin, Ulama Riau yang menyiarkan Islam di
kerajaan Siak.
2. Jawa
Penyebar Islam di Jawa dikenal dengan sebutan wali songo,
yaitu :a. Maulana Malik Ibrahim f.
Sunan Drajat (Syarifudin Hasyim)
b. Sunan Ampel (Raden Rahmat) g. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah
c. Sunan Giri (Raden Paku) h.
Sunan Kalijaga (Raden Mas Sahid)
d. Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) i. Sunan Muria (Raden Prawoto)
e. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Madura baru terislamkan pada abad ke-15 M. adapun tokokh
yang berjasa adalah : sunan Padusan, (Raden Bendoro Diwiryopodho/Usman Haji) di
daerah Sumenep, Buyut Syeikh dan empu Bageno yang berdakwah di Sampang.
3. Daerah Lain
Kalimantan : Tuan Tunggang dan Datuk ri Bandang
Sulawesi : Maulana Husain (ternate), Syeikh Mansur (Tidore),
Katib Sulung, Datuk ri Patimang, (Goa), Sayyid Zeun al Alydrus dan Syarif Ali
(Bugis).
Nusa Tenggara : Sunan Prapen, Habib Husain bin umar dan
Habib Abdullah Abbas (Lombok), Syarif Abdurrahman Al Gadri (Sumba), Syeikh
Abdurrahman (Sumbawa dan Timor), Pangeran Suryo Mataram (Kupang).
C. FAHAM KEISLAMAN YANG BERKEMBANG DI INDONESIA
Faham ke-Islaman yang berkembang di Indonesia sejak awal
adalah faham Ahlusunnah wal Jama’ah atau disebut juga Sunni yang menonjolkan
aspek-aspek sufistik dan bermadzhab Syafi’i.
Secara Harfiyah Ahlusunnah wal Jama’ah berasal dari tiga
kata :
Ahlu ; keluarga, golongan atau pengikut
Al Sunnah ; segala sesuatu yang diajarkan dan diamalkan
Rasulullah SAW.
Jama’ah ; para shahabat,
apa yang disepakati para shahabat pada masa Khulafaur Rosidin.
Jadi, Ahlusunnah wal Jama’ah ialah : Golongan yang mengikuti
ajaran Islam seperti yang diajarkan dan diamalkan Rosulullah dan para
Shahabtnya.
Faham ini di pelopori oleh ; Imam As’ary dan Imam Maturidi.
D. LATIHAN SOAL
Jelaskan teori – teori masuknya Islam di Indonesia :
– Teori Arabia
– Teori Gujarat
– Tepri Persia
Jelaskan faham Keislaman yang berkembang di Indonesia ?
Apa yang kamu ketahui tentang Ahlusunnah Wal Jama’ah ?
Sebutkan nama-nama Wali Songo ?
Sebutkan tokoh-tokoh penyebar Islam di
– Sumatra
– Kalimantan
– Sulawesi
– Madura
– Nusa Tenggara
BAB II
STRATEGI DAN PENYEBARAN ISLAM
DI INDONESIA
A. STRATEGI DAKWAH ISLAMIYAH
Islam dalah agama yang membawa rahmat kepada seluruh alam
semesta, bukan hanya umat Islam semata. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT
…
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi
rahmat bagi semesta alam.”
Dalam mengemban dakwah Islamiyah, para Da’i atau Mubaligh
tidak menempuh jalan kekerasan, namun lebih memilih jalan damai. Metode dakwah
dengan jalan kekerasan hanya akan memimbulkan dampak negatif baik dari segi
Da’i maupun dari segi dakwah Islamiyah itu sendiri.
Karena tugas dakwah adalah tugas setiap umat Islam, maka
kegiaytan dakwah Islamiyah dilaksanakan oleh semua pihak dengan berbagai
kegiatannya masing-masing. Para pedagang melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan
perdagangan, para seniman melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan seni dan
budaya, dan para penguasa (pemimpin) melaksanakan dakwahnya dalam kegiatan
pemerintahan.
DAKWAH MELALUI KEGIATAN PEREKONOMIAN
Salah satu proses Islamisasi di Indonesia melalui jalur
perdagangan, hal ini sesuai dengan kesibukan jalur perdagangan di selat Malaka
pada abad 7-12 M. Para pedagang Arab mempunyai peranan yang penting dalam
aktfitas perdagangan Timur-Barat.Kegiatan perdagangan tersebut digunakan untuk
berdakwah dan berinteraksi dengan para penguasa setempat. Keuntungan lainya
ialah status social yang tinggi para pedagang, dengan menduduki golongan elit
tersebut dapat dimanfaatkan untuk berdakwah di pusat-pusat pemerintahan.
C. DAKWAH MELALUI KEGIATAN
SENI BUDAYA
Selain perdagangan, para mubaligh Islam juga menggunakan
bentuk-bentuk seni dan budaya sebagai media dakwah. Cara ini lebih mengutamakan
isi daripada bentuk lahiriyah dan mudah menarik simpati rakyat sehingga mudah
pula merek masuk Islam.
Bentuk-bentuk seni dan budaya yang digunakan sangat beragam, ada yang
memanfatkan yang sudah ada namun ada yang memunculkan hal yang baru. Cabang
seni yang popular digunakan adalah Wayang, Gamelan, Gending, dan seni ukir.
Inisiatif penggunaan Wayang adalah Sunan Kalijaga dengan
memodifikasi bentuk dan isi ceritanya. Di dalamnya diselingi gending-gending
yang berupa syair-syair yang berisi ajaran agama, pendidikan, dan falsafah
kehidupan. Budaya yang masih dipeertahankan sebagai media dakwah ialah Kenduri
dan Selametan, dimana niat dan isinya diubah dan diaganti nilai-nilai
keislaman.
D. DAKWAH MELALUI PERKAWINAN
Beberapa factor yang mendorong terjadinya perkawinan
pendatang muslim dan wanita setempat, antara lain :
Karena Islam tidak membedakan status masyarakat.
Kebutuhan biologis, para pedagang biasanya tidak membawa
istri dalam muhibahnya. Para pribumi juga membiarkan perkawinan anak-anakya
dengan pedagang muslim untuk memperoleh status social dan ekonomi yang kuat.
Faktor politik, dengan menikahi putri bangsawan maka akan
meningkatkan status social dan ekonomi sehingga memudahkan untuk berdakwah.
Melalui perkawinana ini nantinya akan membentuk inti
masyarkat muslim yang menjadi titik tolak perkembangan Islam di Indonesia.
E. DAKWAH MELALUI POLITIK DAN PEMERINTAHAN
Berdakwah dilakukan pula di lingkungan kerajaan, sasaran
utamanya adalah para raja, keluarga raja, dan para pembesar kerajaan. Tujuan
utamanya adalah apabila sang raja telah masuk Islam, maka rakyatnya akan setia
mengikutinya.
Di antara para tokoh yang berhasil ialah Syeikh Ismail yang
berhasil mengislamkan Merah Silu (Malikus Shaleh raja Samudra Pertama). Di
Jawa; Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) berhasil berdakwah di lingkungan kerajaan
majapahit. Walaupun prabu brawijaya tidak mau masuk Islam, namun Sunan Ampel
diberi kebebasan untuk berdakwah sampai ia mendirikan Pesantren di Randukuning
Surabaya yang bernama Ampel Dento .
Salah satu kader Sunan Ampel adalah Raden Patah, beliau
adalah putra Brawijaya V dari ibu Dharawati. Pada tahun 1462 Raden Patah diangkat
menjadi adipati Bintoro (Demak), meskipun demikian beliau tetap berdakwah dan
mendidik para santri di pesantren Glagahwangi. Demak berkembang dengan pesat,
selain sebagai pusat pemerintahan tetapi juga sebagai pusat dakwah Islamiyah
dan berkumpulnya para wali songo. Di Kota ini para wali mendirikan sebuah
masjid agung pada tahun 1468 M. Melalui musyawarah para Wali maka Raden Patah
diangkat menjadi Sultan di Demak, sejak saat itu berdirilah kerajaan Islam di
Jawa, yaitu kerajaan Demak.
Dengan berdirinya kerajaan (pemerintahan) Islam, maka
penyebaran Islam akan lebih kokoh, sehingga Islam berkembang dengan pesat di
Indonesia.
PONDOK PESANTREN
A. LATAR BELAKANG BERDIRINYA PONDOK PESANTREN
pesantren merupakan “Bapak” dari pendidikan Islam di
Indonesia, dimana bila di tinjau dari segi sejarah dilahirkan atas kesadaran
kewajiban dakwah Islamiyah, yakni menyebarkan dan mengembangkan ajaran islam,
sekaligus mencetak kader-kader ulama.
Pondok adalah rumah atau tempat tinggal sederhana, disamping
itu kata “Pondok” berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti asrama.
Sedangkan Istilah pesantren berasal dari kata Shastri (India) yang berarti
Orang yang mengetahui kitab suci (Hindu). Pesantren sendiri menurut pengertian
dasarnya adalah tempat belajar para santri. Dalam bahasa Jawa mnejadi Santri
dengan mendapat awalan Pe dan akhiran an menjadi Pesantren :Sebuah pusat
pendidikan Islam tradisional atau pondok untuk para siswa sebagai model sekolah
agama di Jawa.
Di Aceh Pesantren disebut : dayah, Rangkang, Meunasah.
Pasundan disebut Pondok, dan di Minangkabau disebut Surau. Pimpinan pesantren
tertinggi (Pengasuh) disebut Kyai (jawa), Tengku (Aceh), Datuk atau Buya
(Minangkabau), Abah/Ajengan (Sunda).
Tokoh yang pertama mnedirikan pesantren adalah Maulana malik
Ibrahim (w. 1419M), beliau menggunakan Masjid dan pesantren untuk pengajaran
ilmu-ilmu agama yang akhirnya melahirkan tokoh-tokoh wali songo. Pada taraf
permulaan bentuk pesantren sangat sederhana, kegiatan pendidikan dilakukan di
masjid dengan beberapa santri. Ketika Raden Rahmad (Sunan Ampel) mendirikan
pesantren (Ampel Dento) hanya memiliki tiga orang santri. Para santri yang
telah selesai belajarnya di Pesantren Ampel Dento kemudian mendirikan pesantren
baru. Salah satunya adalah Raden Paku (Sunan Giri) yang mendirikan Pesantren d
desa Sidomukti, Gresik yang bernama Giri Kedaton.
Pesantren Giri Kedaton memiliki santri dari berbagai daerah,
seperti jawa, Madura, Lombok, Sumbawa, Makasar, Ternate, dan lain-lain. Setiap
santri kemudian mendirikan pesantren di daerahnya masing-maisng dengan demikian
pesantren dapat berkembang dengan pesat.
Berdasarkan sejarah berdirinya, maka tujuan berdirinya
pesantren ialah :
Sebagai lembaga pendidikan keagamaan dan pembentuk
kader-kader ulama
Sebagai benteng pertahanan dan pengawal bagi keberlagsungan
dakwah Islamiyah di Indonesia.
B. FUNGSI DAN PERAN PESANTREN DALAM PENYEBARAN ISLAM
Fungsi utama pondok pesantren ialah sebagai lembaga
pendidikan keagamaan dan pusat dakwah islamiyah. Pada masa penjajahan Pesantren
merupakan pendidikan menanamkan sikap patriotisme dan basis perjuangan untuk
melawan penjajah.
Tradisi pesantren memiliki sejarah panjang. Oleh karena itu,
situasi dan peranan Pesantren dewasa ini harus dilihat dalam hubungan
perkembangan Islam jangka panjang, baik di Indonesia maupun di negara-negara
Islam pada umumnya.
Sesuai dengan perkembangan jaman maka pondok pesantren saat
ini dilengkapi dengan ilmu-ilmu umum dan berbagai ketrampilan. Hal ini untuk
membekali para santri agar tidak gagap dengan perkembangan IPTEK dan dapat
berperan aktif dalam masyarakat luas.
Pendidikan di Pesantren bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan
(transfer of knowliege) tetapi juga transfer nilai (transfer of value),
sehingga akan mampu mencetak santri yang menguasai ilmu-ilmu agama, mengamalkan
ilmunya dengan ikhlas, dan menjadi orang yang sholeh apapun profesinya.
C. METODE KAJIAN YANG DILAKUKAN DI PESANTREN
Proses pendidikanya berlangsung 24 jam, dimana terjadi
hubungan antara Kyai dan santri, santri sesame santri yang berada dalam satu
kompleks (masyarakat belajar).
Setidaknya ada tiga jenis ilmu keislaman yang secara
istiqomah diajarkan di pesantren, yaitu : Aqidah (Kalam), Fiqh (Syari’ah), dan
Akhlaq (tasawuf). Ketiga ilmu tersebut digali dan dipelajari dari sumber
kitab-kitab salaf (kitab kuning) yang disusun oleh para ulama Ahlusunnah wal
Jama’ah.
Sistem pembelajaran di Pesantren meliputi :
Sorogan, Kyai/Ustadz mengajar para santri satu persatu,
tanpa membedakan umur dan jenjang pendidikan.(kelas). Contoh : sorogan Qur’an,
sorogan Kitab dan lain-lain.
2. Bandungan, Kyai/Ustadz mengajar para santri secara
bersama-sama tanpa membedakan umur dan kelas. System ini biasanya dilakukan
pada waktu tertentu dan pada materi tertentu, seperti pengajian akhlaq, Hadits,
Pengajian Romadlon, dan lain lain.
3. Madrasy / Kalsikal, system pembelajaran dengan cara
klasikal, para santri dikelompokan sesuai umur dan tingkat kemampuannya. Dalam
pendidikan Pesantren dikenal jenjang pendidikan yaitu :Awaliyyah, Wustho, Ulya,
Ma’had ‘Ali.
Berdasarkan system pembelajarannya, maka pesantren dapat
dikelompokkan :
Pesantren Al Qur’an, Pesantren yang secara khusus
mempelajari Al Qur’an dan mencetak para
Hafidz fdan Hafidzah.
Pesantren Kitab, Pesantren yang secara khusus mempelajari
ilmu-ilmu fiqh
Pesantren Alat, pesantren yang secara khusus mempelajari
ilmu-ilmu Bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu, Shorof, dan lain-lain.
Sedangkan tipe secara umum pesantren adalah :
Pesanten Salafiyyah, Pesantren yang tidak menyediakan
pendidikan formal, sehingga para santri hanya khusus belajar di pesantren.
Pesantren Salafiyah secara khusus mempelajari satu bidang keilmuan, seperti fiqh,
Hadits, atuapun ilmu alat.
Pesantren Modern, Pesantren yang menyediakan pendidikan
formal, sehingga para santri selain belajar di pesantren juga menempuh
pendidikan formal.
Pesantren Perpaduan , Pesantren yang menyediakan pendidikan
formal, tapi dalam system pembelajaranya juga mengikuti system Salafiyyah.
D. HAL-HAL YANG MENJIWAI DI PESANTREN
Sebagai lembaga Tafaqquh fiddin (memperdalam agama) pondok
pesantren mempunyai jiwa yang membedakan dengan lembaga-lembaga pendidikan
lainya. Jiwa pondok pesantren tersebut dinamakan “Panca Jiwa Pesantren”, yaitu
:
Jiwa keikhlasan , jiwa ini terbentuk oleh suatu keyakinan
bahwa semua perbuatan (baik atau buruk) pasti akan di balas oleh Allah SWT,
jadi beramal tanpa pamrih tanpa mengahrapkan keuntungan duniawi.
Jiwa Kesederhanaan, sederhana bukan berarti pasif tetapi
mengandung unsur kekuatan dan kaetabahan hati serta penguasaan diri dalam
mengahadapi dalam mengahdapi segala kesulitan.
Jiwa Persaudaraan yang Demokratis, segala perbedaan
dipesantren tidak menjadi penghalang dalam jalinan ukhuwah (persaudaraan) dan
Ta’awun (saling menolong).
Jiwa kemandirian, pesantren harus mampu mandiri dengan
kekuatannnya sendiri.
Jiwa Bebas, bebas dalam membentuk jalan hidup dan menetukan
masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimis mengahadapi berbagai
problematika hidup berdaqsarkan nilai-nilai ajaran Islam. Kebebasan jiwa pondok
pesantren juga berarti tidak terpengaruh dan didikte oleh dunia luar.
BAB IV
SEJARAH ORGANISASI NAHDALATUL ULAMA
A. MOTIFASI KELAHIRAN NU
Pada tahun 1914 KH. Abdul Wahab Hasbullah pulang dari Mekkah
setelah bertahun-tahun belajar di sana. Beliau terkenal ulama yang sangat
dinamis dan mempunyai cita-cita untuk
mempersatukan umat Islam dalam suatu perkumpulan / organisasi keagamaan. Untuk
mewujudkan hal itu, beliau menggandeng ulama yang sangat Kharismatik, yaitu KH.
Hasyim As’ary Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang (JATIM).
Kedua Ulama ini mencoba untuk mengorganisir dan memberi
wadah serta mempersatukan umat Islam (tradisionalis) di Indonesia . Untuk
mewujudkan hal tersebut ditempuh langkah-langkah :
Pada tahun 1916 Kyai Wahab mendirikan Madrasah “Jam’iyatul
Nahdlotul Wathon “ di Surabaya. Madrasah
ini berkembang dengan pesat dan membuka cabang di Semarang, Malang, Sidoarjo,
Gresik, Lawang, Pasuruan, dan lain-lain.
Pada tahun 1919 berdiri TASWIRUL AFKAR”, sebuah madrasah dan
forum diskusi keagamaan yang tujuan utamanya memberi tempat untuk mengaji dan
belajar serta untuk membela kepentingan Islam.
3. Pada tahun 1924 berdiri organisasi “Syubhanul Wathon
(pemuda tanah air), organisasi ini mempunyai kegiatan membahas masalah agama,
dakwah, peningkatan pengetahuan bagi anggotanya, dan lain-lain.
Pada tahun 1926 akan disenggarakan Kongres Islam sedunia di Makkah yang diikuti
perwakilan dari organisasi-organisasi Islam di dunia. Pada tanggal 16 Rajab
1344 H / 31 Januari 1926 KH. A. Wahab Hasbullah membentuk suatu komite yang
bernama Komite Hijaz yang beranggotakan para alim ulama dari berbagai daerah
guna mengikuti Kongres tersebut. Dalam rapat/sidang komite hijaz tersebut
memutuskan dua hal, yaitu :
Meresmikan dan mengukuhkan Komite Hijaz dengan masa kerja
samapai delegasi yang akan dikirim menemui Raja Ibnu Saud dan mengirim delegasi
ke Kongres Islam di Makkah. Adapun yang dikirim ialah KH. Wahab Hasbullah dan
Syeikh Ahamad Ghunaim al Mishri.
Membentuk sebuah Jam’iyyah
(organisasi) yang bernama NAHDLATUL ULAMA’. Denggan tujuan untuk membina terwujudnya
masyarkat Islam berdasarkan aqidah atau
faham Ahlusunnah wal Jama’ah (ASWAJA).
Mayoritas anggota NU berada di Jawa, khususnya JATIM,
sepanjang pantura JATENG, Cirebon, dan Banten. Adapun diluar Jawa meliputi :
Banjar (KALSEL) ,Batak Mandailing (SUMUT), Bugis (SULSEL), Sasak dan Sumbawa
(NTB). Cabang tersebut beridri pada kurun waktu 1930-1940. Kiprah NU yang
paling menonjol ialah dibidang pendidikan, jumlah madrasah meningikat pesat pada
waktu 1920-1930-an. Unt6uk mengkoordinasikan kegiatan pendidikan tersebut
dibentuk Lembaga Pendidikan Ma’arif pada tahun 1938.
B. TOKOH-TOKOH PENDIRI NU
Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :
KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) Jombang
KH. Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Jombang
KH.Bisyri Sansoeri (1886 – 1962 ) Jombang
KH. Ridwan Abdullah (1884 -1962) Semarang
KH. Asnawi (1861-1959) Kudus
KH. Ma’sum (1870-1972) Lasem
KH. Nawawi, Pasuruan
KH. Nahrowi, Malang
KH. Alwi Abdul Aziz, Surabaya
C. NAMA DAN LAMBANG
NU
Nahdlatul Ulama adalah organisasi social keagamaan
(Jam’iyyah Diniyah Islamiyah) yang berhaluan (faham) Ahulusunnah wal Jamaah.
Secara harfiah terdiri dari kata Nahdlah : Bangkit/Kebangkitan dan ‘Ulama :
Orang-orang yang ahli agama, Jadi Nahdaltul Ulama berarti kebangkitan para
alim-ulama. Nama NU disusulakan KH. Alwi Abdul Aziz dari Surabaya.
Lambang NU berupa :
Gambar bola Dunia atau Bumi yang mengingatkan manusia itu
berasal dari tanah dan kembali ke tanah.
Dilingkari Tali Tersimpul yang melambangkan ukhuwah atau
persatuan, dan ikatanya melambangkan hubungan dengan Allah SWT.
Dikelilingi sembilan Bintang,
– Lima
bintang di atas katulistiwa, satu bintang besar melambangkan Nabi Muhammad SAW,
sedangkan empat bintang dibawahnya melambangkan empat shahabat (khulafaur
rosidin).
– Empat
bintang di bawah garis katulistiwa, melambangkan empat madzhab.
– Disamping
itu jumlah seluruh bintang sembalian juga melambangkan wali songo.
Jadi Nabi SAW, Shahabat, Imam Madzhab, dan wali songo yang
akan memberikan sinar dan petunjuk jalan yang benar.
Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab yang melintang dari
sebelah kanan bola dunia.
Semua jenis lambing tersebut dilatarbelakangi warna putih di
atas warna hijau. Warna putih melambangkan kesucian dan warna hijau
melambangkan kesuburan. Lambang ini diciptakan oleh KH. Ridwan Abdullah dari
Surabaya setelah beliau melakukan shalat Istikharah.
SOAL LATIHAN BAB IV
I. Pilihan Ganda
1. Sebelum Nahdlatul
Ulama berdiri, telah berdiri beberapa organisasi yang menjadi embrio organisasi NU, Yaitu …..
A. Subbanul wathon, Sarikat Islam, Muhammadiyah
B. Nahdaltul Waton, Taswirul Afkar, Sarikat Dagang Islam
C. Nahdaltul Waton, Taswirul Afkar, Subbanul wathon
D. Sarikat Islam, Subbanul wathon, Nahdlatul Wathon
E. Budi Utomo, Muhammadiyah, Sarikat Dagang Islam
2. Pada tanggal 31
Januari 1926 Komite Hijaz bersidang dengan keputusan …
A. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi
B. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi
Subbanul Wathon
C. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasi
Nahdlatul Wathon
D. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk
organisasiNahdlatul Ulama
E. mengukuhkan komite Hijaz dan membentuk organisasiTaswirul Afkar
3. Nama “Nahdlatul
Ulama” atas usulan …A. KH. Hasyim As’ary D.
KH. Alwi Abdul Aziz
B. KH. Wahab Hasbullah E.
KH. Ridlwan
C. KH. Asnawi Kudus
4. Sebuah organisasi
yang menggalang para pemuda untuk di bina dasar-dasar keagamaan dan wawasan
kebangsaan ialah ..A. Subbanul wathon D.
LP Ma’arif
B. Taswirul Afkar E.
Sarikat Islam
C. Nahdlatul Wathon
5. Nahdlatul Ulama
adalah organisasi sosial keagamaan yang berfaham …A. Wahabiyah D. Ahlusunnah wal Jamaah
B. As’ariyah E.
Maturidiyah
C. Mu’tazilah
6. ”Habluminallah wa
habluminannas” adalah salah satu makna yang terdapat dalam lambang NU yaitu
berupa …..A. lima bintang di atas garis katulistiwa D. tali yang tersimpul
B. lima bintang di bawah garis katulistiwa E. tali yang mengitari bola dunia
C. bola dunia
“ Manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah ”, dalam
Lambang NU disimbulka berupa ….A. lima bintang di atas garis katulistiwa D. tali yang tersimpul
B. lima bintang di bawah garis katulistiwa E. tali yang mengitari bola dunia
C. bola dunia
8. 1. KH.
Abdurrahman Wahid
2. KH. Bisri Sansuri
3. KH. Hasyim Muzadi 4.
KH. Asnawi Kudus
5. KH. Alwi Abdul Aziz
Tokoh-tokoh pendiri NU ditunjukkan pada nomor …A. 2,3,4 D. 3,4,5
B. 1,2,5 E. 1,2,3
C. 2,4,5
9. Nahdlatul Wathon
adalah sebuah madrasah yang didirikan oleh …A. KH. Alwi Abdul Aziz D. KH. Ridlwan
B. KH. Adnawi Kudus E.
KH. Bisri Sansuri
C. KH. Wahab Hasbullah
10. Dalam rangka
memperkuat dan mengembangkan NU, pada awal berdirinya NU lebih berperan dalam
bidang pendidikan, diantaranya dengan membentuk lembaga pendidikan yang bernama
Ma’arif yang berdiri pada tahun …A. 1914 D.
1938
B. 1924 E. 1948
C. 1926
BAB V
SISTEM KEORGANISASIAN NU
A. KEPENGURUSAN NU
Kepengurusan NU terdiri dari tiga bagian, yaitu ;
Mutasyar; Penasehat yang secara kolektif memberikan nasehat
kepada pengurus NU menurut tingkatannya dalam rangka menjaga kemurnian, khothah
nahdliyah, agama, dan menyelesaikan persengketaan.
Syuriyah; merupakan pemimpin tertinggi NU yang berfungsi
pemembina, pengendali, pengawas, dan penetu kebijakan dalam usaha mewujudkan
tujuan organisasi. Tanfidziyah.
Tanfidziyah; pelaksana harian organisasi NU yang bertugas :
– Memimipin
jalanya organisasi
–
Melaksanakan program NU
– Memahami
dan mengawasi kegiatan semua perangkat organisasi dibawahnya.
–
Menyampaikan laporan secara pereodik kepada syuriyah tentang pelaksanaan
tugas.
B. TINGKAT KEPENGURUSAN
1. Pengurus Besar NU
(PBNU)
Pengurus besar adalah kepengurusan NU ditingkat pusat dan
berkedudukan di Ibu kota negara Indonesia. Pengurus besar merupakan penganggung
jawab kebijakan dalam pengendalian organisasi dan pelaksanaan keputusan
muktamar.
2. Pengurus Wilayah
NU (PWNU)
Pengurus Wilayah adalah kepengurusan ditingkat Porpinsi yang
berkedudukan di Ibu kota Propinsi.
3. Pengurus Cabang
NU (PCNU)
Pengurus Cabang adalah kepengurusan U ditingkat
kabupaten/kota yang berkedudukan ditingkat kabupaten
4. Pengurus Majlis
Wakil Cabang (MWCNU)
Pengurus MWC adalah kepengurusan ditingkat kecamatan atau
daerah yang disamakan
5. Pengurus Ranting
NU (PRNU)
Pengurus Ranting ialah kepengurusan NU ditingkat
Desa/Kleurahan atau daerah yang disamakan.
C. SISTEM
PERMUSYAWARATAN
Lembaga permusyawaratan NU meliputi :
1. Muktamar
Lembaga permusyawaratan tertinggi dalam NU, diadakan
selambat-lambatnya sekali dalam lima tahun, dilaksanakan oleh PBNU yang dihadiri oleh Pengurus Besar,
Pengurus Wilayah, dan Pengurus Cabang seluruh Indonesia, serta para ulama dan
undangan dari tenaga ahlu yang berkompeten. Muktamar membahas persoalan-persoalan
sosial dan agama, program pembangunan NU, laporan pertanggungjawaban Pengurus
Besar, menetaptkan AD/ART, serta memilih penguru PBNU yang baru
2. Musyawarah Nasional alim Ulama
Musyawarah alim ulama adalah musyawarah yang diselenggarakan
para alim ulama oleh Pengurus Besar Syuriyah, satu kali dalam satu pereode
untuk membahas masalah-masalah agama.
3. Konfensi Besar
Konfrensi Besar dilaksanakan oleh pengurus Besar atas
permintaan sekurang-kurangnya separoh dari jumlah pengurus Wilayah yang sah.
Konfrensi Besar dilaksanakan untuk membahas keputusan muktamar, mengkaji
perkembangan organisasi, dan membahas social keagamaan.
4. Konfrensi Wilayah
Konfrensi Wilayah dilaksanakan lima tahun sekali yang
dihadiri pengurus wilayah dan utusan-utusan cabang untuk membahas
pertanggungjawaban pengurus Wilayah, menyusun program kerja, membahas masalah
keagamaan dan social, serta memilih pengurus PWNU yang baru.
5. Konfrensi Cabang
Konfrensi Cabang dilaksanakan lima tahun sekali yang
dihadiri pengurus Cabang dan utusan dari Pengurus MWC dan Ranting untuk
membahas pertanggungjawaban pengurus Cabang menyusun program kerja, membahas
masalah keagamaan dan social, serta memilih PCNU yang baru.
6. Konfrensi Majlis Wakil Cabang
Konfrensi MWC lima tahun sekali yang dihadiri pengurus MWC
dan ranting, untuk membahas pertanggungjawaban pengurus MWC, menyusun program
kerja, membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih pengurus MWC yang
baru.
7. Rapat anggota
Rapat anggota dilaksanakan lima tahun sekali yang dihadiri
pengurus ranting untuk membahas pertanggungjawaban pengurus Ranting, menyusun
program kerja, membahas masalah keagamaan dan social, serta memilih pengurus
PRNU yang baru.
D. PERANGKAT ORGANISASI NU
1. Lembaga
Perangkat organisasi yang berfungsi pelaksana kebijakan NU
yang berkaitan dengan satu bidang tertentu.
Adapun lembaga-lembaga NU meliputi :
– Lembaga Dakwah NU
(LDNU)
– Lembaga Pendidikan
Ma’arif NU (LP Ma’arif NU)
– Lembaga Sosial
Mabarut NU (LSMNU)
– Lembaga
Perekonomian NU (LPNU)
– Lembaga
Pembangunan dan Pengembangan Pertanian (LP2NU)
– Rabithah Ma’ahid
al Islamiah (RMI); Pengembangan bidang Pondok Pesantren
– Lembaga
Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU)
– Ha’iyah Ta’miril
Masjid Indonesia (HTMI)
– Lembaga Kajian dan
Pengembangan Sumberdaya Manusia (LAKPESDAM)
– Lembaga Seni
Budaya NU (LSBNU)
– Lembaga
Pengembangan Tenaga Kerja NU (LPTKNU)
– Lembaga Penyuluhan
dan Bantuan Hukum NU (LPBHNU)
– Lembaga Pencak
Silat (LPS)
– Jam’yyah Qura wal
Huffadz (JQH): Bidang Pengembanga Tilawah, Metode pengajaran dan penghafalan
Al-qur’an.
2. Lajnah
Perangkat Organisasi NU untuk melaksanakan program yang
memerlukan penanganan khusus. Lajnah NU meliputi:
– Lajnah Falakiyah:
bertugas menangani Hisab dan Ru’yah
– Lajnah Ta’lif wa
Nasyr: bertugas menangani penerjemah, penyusunan, dan penyebaran kitab-kitab.
– Lajnah Auqaf:
bertugas menghimpun, mengurus, dan mengelola tanah serta bangunan yang
diwaqafkan.
– Lajnah Zakat Infaq
dan Shodaqoh: bertugas menghimpun, mengelola, dan mentsharafkan zakat, infaq
dan sedekah.
– Lajnah Bahtul
Masail Diniyah: bertugas menghimpun, membahas, dan memecahkan masalah-masalah
yang maudlu’iyah dan waq’iyah yang segera mendapatkan kepastian hukum.
Badan Otonam
Perangkat organisasi NUyang berkaitan dengan kelompok
masyarakat tertentu, dan beranggotakan perseorangan. Badan otonom berhak
mengatur kepengurusan dan rumah tangganya sendiri yang ditetapkan melalui
kongres.
Badan Otonom dalam NU adalah:
– Jam’iyah Ahlit
Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyah, Badan Otonom yang menghimpun pengikut
thariqah di lingkungan NU
– Muslimat NU: Badan
Otonom yang menghimpun anggota perempusn NU
– Gerakan Pemuda
Ansor (GP Ansor): Badan Otonom yang menghimpun pemuda NU.
– Ikatan putra NU
(IPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri laki-laki.
– Ikatan Putra-putri
NU (IPPNU): Badan Otonom yang menghimpun pelajar dan santri perempuan.
– Ikatan Sarjana NU
(ISNU): Badan Otonom yang menghimpun para sarjana dan kaum intelek NU.
E. KEANGGOTAAN NU
Keanggotaan NU dapat diklasifikasi menjadi :
1. Anggota Biasa
Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam yang
beragama Islam, menganut salah satu madzhab empat, baligh, mengetahui aqidah,
asas, tujuan, usaha-usaha, dan sanggup melaksanakan semua keputusan NU.
2. Anggota luar Biasa
Setiap orang beragama Islam, baliq, menyetujui akidah, asas,
tujuan, usaha-usaha NU, namun yang bersangkutan berdomisili secara tetap di
luar wilayah Indonesia.
3. Anggota Kehormatan
Setiap orang yang bukan anggota biasa atau luar biasa yang
dianggap telah berjasa kepada NU dan ditetapkan dalam keputusan pengurus besar.
SOAL LATIHAN BAB V
1. Kepengurusan NU yang bertugas memberi petunjuk,
pembinaaan dan bimbingan dalam memahami dan mengamalkan serta mengembangakan
paham Ahlusunnah wal Jamaah ialah …A. Mutasyar D.
Lajnah
B. Tanfidziyah E.
Syuriyah
C. Badan Otonom
2. Salah satu tugas Tanfidziyah ialah ….
A. Melaksanakan program NU
B. Memberi nasehat kepada pengurus NU menurut tingkatanya
C. Mengendalikan, mengawasi dan memberi koreksi terhadap
perangkat NU
D. Membimbing, mengarahkan, dan mengawasi Badan Otonom, Lembaga,
dan Lajnah
E. Membatalkan keputusan apabila dinilai bertentangan dengan
ajaran Islam
3. Perangkat organisasi NU yang bertugas untuk melaksanakan
program NU yang memerlukan penanganan khusus adalah …A. Lembaga D. Badan Otonom
B. Departemen E. Badan
Usaha
C. Lajnah
4. Lembaga NU yang bertugas dalam bidang pengembangan
sumberdaya manusia ialah …A. LP2NU D.
LAKPESDAM
B. RMI E. LPBHNU
C. LSBNU
5. Jam’yah Quro’ wal Hufadz adalah lembaga NU yang bertugas
dalam bidang …
A. penyiaran agama Islam ala Ahlusunnah wal Jamaah
B. pengembangan tilawah, metode pengajaran dan penghafalan
Al Qur’an
C. penyuluhan dan pemebrian bantuan hukum
D. pengembangan seni dan budaya
E. pembangunan dan pengembaga pertanian
6.
7. Pondok pesantren merupakan tulang punggung dalam pembanguna dan pengembangan NU, untuk
itu dibentuk suatu lembaga yang bertugas menangani pengembangan Pondok
Pesantren, yaitu …A. LKKNU D.
LP Ma’arif
B. LPTKNU E.
LDNU
C. RMI
8. Dalam rangka meningkat mutu pendidikan , maka NU
mendirikan lembaga pendidikan yang disebut …A. Tarbiyyah D. Thoriqoh
B. Al ‘Ulum E.
Lembaga Pendidikan
C. Ma’arif
9.
10. Lajnah Falakiyah bertugas mengurus masalah Hisab dan
Ru’yah, yaitu masalah …A. Perhitungan nishab Zakat D. perhitungan
kalender Hijriyah
B. Penentuan orang yang berhak menerima ZIS E. perhitungan kalender Masehi
C. penentuan orang yang menerima Waqaf
11. Badan Otonom NU yang menghimpun para pelajar laki-laki
dan perempuan ialah …A. GP ANSOR, FATAYAT D.
IPPNU, GP ANSOR
B. IPNU, GP ANSOR E.
IPNU, IPPNU
C. IPNU, FATAYAT
12. Fatayat adalah badan otonom yang menghimpun …..A. para
perempuan muda D. para
perempuan-perempuan NU
B. para perempuan muda yang masih pelajar E. kaum intelekdan sarjana NU
C. para perempuan muda dan mahasiswi
13. Kepengurusan organisasi NU yang bertanggung jawab
terhadap pengendalian organisasi dan pelakanaan keputusan Muktamar ialah … .A.
Pengurus Cabang D. Pengurus Kecamatan
B. Pengurus Wilayah E.
Pengurus Desa
C. Pengurus Besar
14. Kepengurusan NU ditingkat Kabupaten/Kota ialah … .A.
Pengurus Desa D. Pengurus Cabang
B. Pengurus Wilayah E. Pengurus Besar
C. Pengurus Kecamatan
15. Sesuai dengan system permusyawaratan NU, untuk memilih
pengurus NU tingkat Propinsi maka harus dilaksanakan … .A. Rapat anggota D. Muktamar
B. Konfrensi MWC E.
konfrensi Wilayah
C. Konfrensi Cabang
16. Konfrensi yang diselenggarakan lima tahun sekali untuk
memilih pengurus NU tingkat kecamatan disebut … .A. Muktamar D. Konfrensi MWC
B. Konfrensi Wilayah E.
Rapat anggota
C. Konfrensi Cabang
17. Anggota Luar biasa NU ialah … .
A. Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam,
baligh, menyetujui azas dan tujuan NU
B. Setiap orang yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas
dan tujuan NU
C. Setiap warga Negara Indonesia yang beragama Islam,
baligh, menyetujui azas dan tujuan Pancasila
D. Setiap orang yang beragama Islam, baligh, menyetujui azas
dan tujuan Pancasila
E. Setiap orang yang beragama Islam, baligh dan sudah
berjasa kepada NU
BAB VI
PERANAN NU DALAM DINAMIKA
SEJARAH INDONESIA
1. NU PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA
Pada awal pereode berdirinya, NU lebih mengutamakan
pembentukan persatuan dikalangan umat Islam untuk melawan colonial belanda.
Untuk mempersatukan umat islam, KH. Hasyim As’ary melontarkan ajakan untuk
bersatu dan menhajukan prilaku moderat. Hal ini diwujudkan dalam sebuah
konfederasi, Majlis Islam A’la Indonesia(MIAI) yang dibentuk pada tahun 1937.
Perjuangan NU diarahkan pada dua sasaran, yaitu : Pertama,
NU mengarahkan perjuanganya pada upaya memperkuat aqidah dan amal ibadah ala
ASWAJA disertai pengembangan persepsi keagamaan, terutama dalam masalah social,
pendidikan, dan ekonomi. Kedua; Perjuangan NU diarahkan kepada kolonialisme
Belanda dengan pola perjuangan yang bersifat cultural untuk mencapai
kemerdekaan.
Selain itu, sebagai organisasi social keagamaan NU bersikap
tegas terhadap kebijakan colonial Balanda yang merugikan agama dan umat Islam.
Misalnya : NU menolak berpartisipasi dalam Milisia (wajib militer), menetang
undang-undang perkawinan, masuk dalam lembaga semu Volksraad, dan lain-lain.
2. NU PADA MASA PENJAJAHAN JEPANG
Pada masa penjajahan Jepang semua organisasi pergerakan nasional
dibekukan dan melarang seluruh aktivitasnya, termasuk NU. Bahkan KH. Hastim
Asy’ary (Rois Akbar) dipenjarakan karena menolak penghormatan kaisar Jepang
dengan cara membungkukkan badan ke arah timur pada waktu-waktu tertentu.
Mengantisipasi prilaku Jepang, NU melakukan serangkaian
pembembenahan. Untuk urusan ke dalam diserahkan kepada KH. Nahrowi Thohir
sedangkan urusan keluar dipercayakan kepada KH. Wahid Hasyim dan KH. Wahab
Hasbullah. Program perjuangan diarahkan untuk memenuhi tiga sasaran utama,
yaitu :
Menyelamatkan aqidah Islam dari faham Sintoisme, terutama
ajaran Shikerei yang dipaksakan oleh Jepang.
Menanggulangi krisis ekonomi sebagai akibat perang Asia
Timur
Bekerjasama dengan seluruh komponen Pergerakan Nasional
untuk melepaskan diri dari segala bentuk penjajahan.
Setelah itu, Jepang menyadari kesalahanya memperlakukan umat
Islam dengan tidak adil. Beberapa organisasi Islam kemudian dicairkan
pembekuanya. Untuk menggalang persatuan, pada bulan Oktober 1943 dibentuk
federasi antar organisasi Islam yang diberi nama Majlis Syuro Muslimin
Indonesia (MASYUMI). Pada bulan Agustus 1944 dibentuk Shumubu(Kantor Urusan
Agama) untuk tingkat pusat, dan Shumuka untuk tingkat daerah.
3. NU PADA MASA KEMERDEKAAN
Pada tanggal 7 September 1944 Jepang mengalami kekalahan
perang Asia Timur, sehingga pemerintah jepang akan memberikan kemerdekaan bagi
Indonesia. Untuk itu dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI). BPUPKI berangggotakan 62 orang yang diantaranya adalah
tokoh NU (KH. Wahid Hasyim dan KH. Masykur).
Materi pokok dalam diskusi-diskusi BPUPKI ialah tentang
dasar dan bentuk Negara. Begitu rumitnya pembahasan tentang dasar dan falsafah
Negara makadi sepakati dibentuk “Panitia Sembilan”. Dalam panitia kecil ini NU
diwakili oleh KH. Wahid Hasyim, hasilnya disepakati pada dasar Negara mengenai
“Ketuhanan” ditambah dengan kalimat “Dengan kewajiaban menjalankan Syari’at
Islam bagi pemeluknya”. Keputusan ini dikenal dengan “Piagam Jakarta”.
Sehari setelah Indonesia merdeka, Moh Hatta memanggil empat
tokoh muslim untuk menanggapi usulan keberatan masyarkat non muslim tentang
dimuatnya Piagam Jakarta dalam pembukaan UUD 1945. Demi menjaga keutuhan dan
kesatuan bangsa, KH. Wahid Hasyim mengusulkan agar Piagam Jakarta diganti
dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”. Kata “Esa” berarti keesaan Tuhan (Tauhid)
yang ada hanya dalam agama Islam, dan usul ini diterima.
Pada 16 September 1945 tentara Belanda (NICA) tiba kembali
di Indonesia dengan tujuan ingin kembali menguasai Indonesia. Melihat ancaman
tersebut, NU segera mengundang para utusan dan pengurus seluruh Jawa dan madura
dalam sidang Pleno Pengurus Besar pada 22 Oktober 1945. Pada rapat tersebut
dikeluarkan “Resulusi Jihad” yang secara garis besar berisi :
Kemerdekaqan Indonesia wajib dipertahankan
Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang
sah wajib dibela dan diselamatkan.
Musuh RI , terutama Belanda pasti akan menggunakan
kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.
Umat Islam terutama warga NU wajib mengangkat senjata melawan
Belanda dan kawan-kawanya yang hendak kembali menjajah Indonesia.
Kewajiban Jihad tersebut adalah suatu jihad yang menjadi
kewajiban bagi setiap muslim (Hukumnya fardlu ‘Ain).
Resulusi Jihad ini benar-benar menjadi inspirasi bagi
berkobarnya semangat juang Arek-Arek Surabaya dalamperistiwa 10 November 1945
yang dikenal dengan”Hari Pahlawan”.
4. NU DALAM MENGISI KEMERDEKAAN
Setelah Proklamasi kemerdekaan, hamper semua organisasi
Islam sepakat menjadikan MASYUMI sebagai partai politik, termasuk NU. Namun
pada tahun 1950 NU memutuska untuk keluar dari MASYUMI karena terjadi konflik
intern. Pada Muktamar NU ke -19 di Palembang 1952 memutuskan menjadi Partai
Politik, dengan demikian NU memasuki
dunia politik secara otonom dan terlubat langsung dalam persoalan-persoalan
Negara. Untuk melapangkan jalan di dunia polotik, NU masuk dalam kabinet Ali
Sastro Amijoyo, seperti KH. Zainul arifin (wakil perdana mentri), KH.Masykur
(menteri Agama), begitu pula dengan susunan kabinet yang lain .Pada tahun 1955
diadakan pemilu yang pertama diIndonesia, NU mampu meraih suara terbanyak
ketiga setelah PNI dan PKI. Hal ini tidak lepas dari peran Kyai dan Pesantren
sebagai kekuatan pokok NU.
Pada pereode 1960-1966 NU tampil menjadi kekuatan yang
melawan komunisme, hal ini dilakukan dengan membentuk beberapa organisasi,
seperti : Banser (Barisan Ansor Serba Guna), Lesbumi (lembaga Seni Budaya
Muslim), Pertanu (Persatuan Petani NU), dan lain-lain. Pada tanggal 5 Oktober
1965 NU menuntut pembubaran PKI .
SOAL LATIHAN BAB VI
1. Sebagai salah satu sikap perjuangan NU melawan
pemerintahan kolonial Belanda adalah ….
Menolak berpartispasi dalam wajib militer
Mendirikan partai politk untuk melawan Belanda
Mengadakan perang gerilya
Menuntut adanya pemilihan umum untuk memilih presiden
Menolak kedatangan Jepang
2. Pada bulan oktober 1943 dibentuk federasi antar
organisasi-organisasi Islam guna menggalang persatuan kaum muslimin Indonesia
untuk melawan Jepang, yaitu …A. MASYUMI D.
SARIKAT ISLAM
B. MUHAMMADIYAH E.
MAJLIS ULAMA INDONESIA (MUI)
C. NAHDALTUL ‘ULAMA
3. Tokoh NU yang ikut dalam anggota BPUPK adalah ….
KH. A. Wahab Hasbullah dan KH.A. Wahid Hasyim
KH. Hasyim As’ary dan KH. Masykur
KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Hasyim As’ary
KH.A. Wahid Hasyim dan KH. Masykur
KH. A. Wahab Hasbullah dan KH. Masykur
MATERI TAMBAHAN :
Mata Pelajaran
: ASWAJA/Ke-NU-an
Kelas
: I (X) SMA/SMK
1. KEPENGURUSAN NU
Kepengurusan NU terdiri dari dua bagian, yaitu SYURIAH (ROIS
‘AMM) dan TANFIDZIYAH.
Syuriyah merupakan pemimpin tertinggi NU yang
berfungsimembina, membimbing, mengarahakan, dan mengawasi kegiatan Jam’iyah.
Sedangkan Tanfidziyah merupakan pelaksana sehari-hari.
Tugas-tugas Syuriyah :
Setiap awal tahun hijriyah memberikan pengarahan dalam rapat
pleno penyusunan program tahunan.
Setiap akhir athun hijriyah menerima laporan kerja.
Memberikan tegura, saran dan bimbingan kepada seluruh
perangkat Jam’iyah
Berhak embatalkan keputusan atau kebijakan organisasi yang
dianggap bertentangan dengan ajaran Islam
Membina, mengembangkan dan menyiarkan kehidupan beragama
khususnya bagi warga NU danumumnya umat Islam.
Sekurang-kurangnya setahun sekali menerbitkan tulisan
bersifat keagamaan
Menyelenggarakan musyawarah ulama.
Tugas-tugas Tanfidziyah :
Mengusahakan kemajuan Jam’iyah
Menggerakkan dan mengelola pelaksanaan program Jam’iyah
Melaporkan pelaksanaan tugas harian kepada Syuriyah
Ketua umum Tanfidziyah ditingkat pusat sedangkan ketua Tanfidziyah ditingkat Wilayah
dan Cabang, karena jabatabya menjadi pengurus syuriyah.
2. PERMUSYAWARATAN DALAM NU
Lembaga permusyawaratan NU meliputi :
RAPAT ANGGOTA
Lembaga permusyawaratan ditingkat ranting (Desa), diadakan
selambat-lambatnya sekali dalam dua tahun. Kepengurusan ditingkat Ranting
(Desa) disebut PRNU
KONFERENSI MAJLIS WAKIL CABANG
Lembaga permusyawaratan ditingkat MWC (majlis wakil cabang),
diadakan selambat-lambatnya sekali dalam dua tahun. Kepengurusan ditingkat
wakil cabang (Kecamatan) disebut PACNU
KONFERENSI CABANG
Lembaga permusyawaratan ditingkat Cabang (Kabupaten),
diadakan selambat-lambatnya sekali dalam tiga tahun. Kepengurusan ditingkat
Cabang (Kabupaten) disebut PCNU
KONFERENSI WILAYAH
Lembaga permusyawaratan ditingkat Wilayah (Propinsi),
diadakan selambat-lambatnya sekali dalam empat tahun. Kepengurusan ditingkat
Wilayah (Propinsi) disebut PWNU
MUKTAMAR
Lembaga permusyawaratan tertinggi dalam NU, diadakan
selambat-lambatnya sekali dalam lima tahun, untuk memilih pengurus besar NU
yang baru. Kepengurusan ditingkat Pusat
disebut PBNU
3. LAMBANG NU
Lambang NU adalah gambar bola dunia yang diikat dengan tali
dan dikelilingi oleh sembilan bintang. Lambang tersebut adalah ide yang
diberikan oleh KH. RIDLWAN dari Surabaya, setelah beliau melakukan shalat
Istikharah.
4. SEJARAH BERDIRINYA NU
Pada tahun 1914 KH. Abdul Wahab Hasbullah pulang dari Mekkah
setelah bertahun-tahun belajar di sana. Beliau mempunyai cita-cita untuk
mempersatukan umat Islam dalm suatu perkumpulan / organisasi keagamaan.
Oleh karena itu, guna memulai usahanya beliau mendirikan
forum diskusi dan kursus keagamaan yang dianmakan “TASHIRUL AFKAR”. Setelah itu
bersama denagn KH. Mas Manhur mendirikan organisasi “Jam’iyatul Nahdlotul
Wathon “. Organisasi in berkembang
dengan pesat dan mendapat pengesahan dari pemerintah Belanda pada tahun 1916.
Selain itu berdiri pula organisasi “Syubhanul Wathon (pemuda tanah air) pada
tahun 1925.
Akhirnya pada tanggal 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 KH.
A. Wahab Hasbullah membentuk suatu komite yang bernama Komite Hijaz yang
beranggotakan para alim ulama dari berbagai daerah. Dalam rapat komite
tersebutmemutuska beberapa hal, diantaranya “membentuk suatu organisasi atau
Jam’iyah yang bernama NAHDLATUL ULAMA’.” Nama Nahdlatul Ulama’ adalah usulan
dri KHM. Alwi Abdul Aziz.
Adapun tokoh besar pengurus NU ialah :
– KH. Hsyim Asy’ari
– KH. Abdul Wahab
Hasbullah
– KH.Bisyri
Sansoeri
MATERI TAMBAHAN :
Mata Pelajaran : ASWAJA/Ke-NU-an
Kelas : I (X) SMA/SMK
PRILAKU WARGA NU
A. PRILAKU KEAGAMAAN
Bidang Aqidah:
–
Keseimbangan dalam penggunaan dalil Aqli dan Naqli.
– Manusia
wajib beusaha sedangkan Allah yang menentukan hasilnya.
Bidang Syariah
– Al Qur’an
dan As Sunnah adalah sumber utama dalam menetapkan hukum syariah.
– Bila sudah
ada dalil yang jelas (sharih) dan pasti (Qath’I) waji9b dilaksanakan dengan
sungguh-sungguh
– Mentolelir
adanya perbedaan pendapatdalam masalah furu’iyah dan mu’amalah.
Bidang Tasawuf
– Tasawuf
adalah inti sari pengamalan dan penghayatan ajaran agama dalam rangka mancapai
hakekat kebenaran.
– Tasawuf
memberikan motivasiuntuk selalu dinamis.
– Inti ajaran
Tasawuf adalah penyucian hati dan pembentukan sikap mental dalam menghambakan
diri kepada Allah.
B. PRILAKU
KEMASYARAKATAN
Menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-norma ajaran Islam
Mendahulukan kepentingan bersama ari pada kepentingan
pribadi
Menjunjung tinggi sifat keikhlasan dalam berhikmad dan
berjuang
mengusahakan terwujudnya persaudaraan (Ukhuwah, persatuan
(Ittihad), dan saling mengasihi ( Taharum)
C. PRILAKU EKONOMI
As Shidqu ; kejujuran, kesungguhan dan keterbukaan
Al Amanah wal Wafa Bil’ahd : dapt dipercaya, setia, tepat
janji
Al Adalah : adil, obyektif, proporsional dan taat asas.
D. PRILAKU POLITIK
Demokratis
Konstitusional
Taat hukum
mengembangkan musyawarah dan mufakat
Humanisme relegius (Insaniyah-Diniyah) : peduli dengan nilai
kemanusiaan yang agamais
Terbuka baik dalam lintas agama, suku, ras, dan golongan.
E. PRILAKU BUDAYA
Proprosional Normatif: masalah kebudayaan harus ditempatkan
pada kedudukan yang wajar
Obyektif dan Selektif
Elastis
F. PRILAKUSEBAGAI
ANGGOTA ORGANISASI NU
Ada lima hal sikap prilaku warga NU dalam berorganisasi
(Panca Gerakan Idiologi), yaitu :
Ats Tsaqifah bi NU : Yakin dan percaya sepenuhnya terhadap
NU
Al Ma’arif wal Istiqon bi NU : bisa memberi bobot ilmiah
terhadap NU dengan sungguh-sungguh
Al Amal bi Ta’limi NU : Istiqomah dan konsisten dalm
mempraktekkan ajaran dan tuntunan NU
Al Jihad fi Sabili NU ; selalu bersemangat dalam
memperjuangkan NU
Ash Sabr fi Sabili NU : sabar, tangguh, dan tabah dalam
ber-NU.